Ruben Orang yang tertarik dengan dunia tulis menulis ;)

Penjelasan Mengenai Tari Bedhaya Ketawang

sejarah tari bedhaya ketawang

Tari Bedhaya Ketawang adalah salah satu tarian yang disakralkan oleh keraton Kasunan Surakarta, karena tari ini dianggap suci maka kaya akan makna.

Tari Bedhaya Ketawang adalah salah satu tari yang melambangkan kebesaran, oleh karena itu tarian ini hanya ditarikan pada saat acara-acara besar seperti penobatan tahta raja atau disebut dengan Tingalandelam Jumenang.

Oleh karena itu Tari Bedhaya Ketawang hanya bisa kita saksikan ketika ada penobatan kenaikan raja yang berasal dari Keraton Kasunan Surakarta.

Nama tarian Surakarta ini sendiri diambil dari dua kata yakni “bedhaya” yang mempunyai arti penari wanita dan ketawang yang berasal dari kata tawang yang mempunyai arti langit.

Oleh karena itu makna ketawang merupakan perlambangan dari sesuatu yang tinggi, suci atau tempat tinggalnya para dewa.

Sedangkan para penarinya merupakan perlambangan dari letak bintang menyerupai bentuk kalajengking yang jumlahnya ada sembilan.

Sejarah Tari Bedhaya Ketawang

sejarah tari bedhaya ketawang

Adapun sejarah awal adanya tarian ini berasal dari zaman dahulu.

Tarian adat ini juga merupakan salah satu pusaka warisan dari leluhur yang dimiliki oleh para raja Kesultanan Surakarta dan juga konsep dari legitimasi raja-raja Surakarta.

Karena gerakan-gerakan dari tarian ini mempunyai makna falsafah yang sangat tinggi dan sarat akan makna, oleh karena itu gerakan-gerakan dalam tarian ini juga masih mengikuti pakemnya hingga zaman sekarang.

Perlu kamu ketahui bahwa tarian ini sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram yang kala itu dipimpin oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma sekitar tahun 1623 hingga 1645.

Dalam beberapa cerita yang tersebar di masyarakat mengatakan bahwa pada saat sultan Agung memerintah, ia melakukan ritual dengan bersemedi hingga suatu ketika dia mendengar suara senandung yang berasal dari langit.

Karena suara tersebut sangat indah membuat sultan agung menjadi terkesima dan memanggil para bawahannya.

Mereka ialah Panembahan Purbaya, Pangeran Karang Gayam ll, Kyai Panjang Mas dan juga Tumenggung Alap-Alap. Setelah itulah Sultan Agung membuat suatu tarian yang dinamakan dengan Tari Bedhaya Ketawang.

Adapun versi lain dari sejarah Tari Bedhaya Ketawang ialah cerita mengenai pertapaan Panembahan Senapati yang bertemu dan menjalin kasih dengan Ratu Kencanasari atau dikenal dengan Kanjeng Ratu Kidul.

Cerita inilah yang menjadi cikal bakal Tari Bedhaya Ketawang.

Namun setelah perjanjian Giyanti yang ada pada tahun 1755 dilakukanlah pembagian harta warisan Kesultanan Mataram menjadi dua yaitu untuk Hamengkubuwana l dan kepada Pakubawana lll.

Tak hanya pembagian wilayah dan kekuasaan, perjanjian tersebut juga membagi warisan budaya, dimana Tari Bedhaya Ketawang menjadi milik Keraton Kasunan Surakarta.

Seiring dengan perkembangan zaman, tari ini mejadi salah satu pertunjukan dalam penobatan dan pengangkatan raja.

Tari Bedhaya Ketawang sendiri merupakan gambaran dari kisah asmara antara raja Mataram dengan Ratu Kidul yang digambarkan dalam gerak tari tersebut.

Dalam Tari Bedhaya Ketawang juga ada tembang pengiring yang merupakan kata-kata curahan hati ratu kepada raja.

Makna Tari Bedhaya Ketawang

makna tari bedhaya ketawang

Tari Bedhaya Ketawang merupakan salah satu tarian yang dianggap sakral dan merupakan gambaran dari kebesaran Raja.

Tari Bedhaya Ketawang merupakan tari tradisional keraton yang erat hubungannya dengan upacara adat yang ada dalam keraton dan mempunyai makna mendalam.

Adapun unsur-unsur yang membuat tarian ini mempunyai makna mendalam ada tiga yaitu sebagai berikut.

Upacara adat

Tari Bedhaya Ketawang tidak bisa secara sembarangan dapat ditampilkan, karena ada adat yang mengatur kapan tarian ini dapat dilakukan.

Seperti yang dijelaskan sebelumnya tarian ini ini hanya ditampilkan saat khusus seperti pemilihan raja baru, kenaikan tahta dan upacara penobatan raja Kasultanan Surakarta.

Dalam pertunjukannya pun ada beberapa peraturan yang harus dipatuhi seperti tidak diperbolehkan merokok dan tak ada hidangan yang dikeluarkan.

Karena hal tersebut dapat mengganggu prosesi jalannya upacara sehingga upacara tak lagi khidmat.

Sakral

Beberapa orang juga meyakini jika Tari Bedhaya Ketawang merupakan ciptaan makhluk halus.

Oleh sebab itu ada sebagian orang yang percaya jika saat pagelaran ataupun latihan Tari Bedhaya Ketawang Ratu Kidul akan hadir dan ikut menari ditengah-tengah para penari.

Tari Bedhaya Ketawang juga diyakini dulunya merupakan salah satu tarian yang digunakan untuk pemujaan saat beribadah di candi.

Tari cinta

Tak hanya unsur sakral dan upacara adat Tari Bedhaya Ketawang juga merupakan lambang dari curahan asmara yang tertuang dalam gerakan badan penarinya.

Konon katanya tari tersebut merupakan terdapat nilai magis yang sangat positif

Tari Bedhaya Ketawang juga merupakan gambaran dari pemberian pertolongan Tuhan kepada kerajaan Mataram untuk membina.

Dalam pertapaannya di pinggir samudera pada zaman dahulu panembahan Senopati juga berharap untuk mendapatkan keselamatan dari Tuhan yang maha Esa.

Syarat Tari Bedhaya Ketawang

syarat tari bedhaya ketawang

Tari Bedhaya Ketawang merupakan tarian tradisional yang dimainkan oleh sembilan penari wanita.

Dalam tarian tersebut ada beberapa syarat yang harus dipenuhi seperti para penari tersebut merupakan gadis dan tidak sedang dalam keadaan haid.

Kalopun gadis tersebut dalam keadaan haid maka diperbolehkan menari dengan syarat harus meminta izin terlebih dahulu kepada Kanjeng Ratu Kidul dengan cara caos dhahar di Panggung Sangga Buwana yang ada di Keraton Surakarta.

Selain syarat tersebut para penari juga harus suci secara lahiriah para penari juga harus suci secara batiniah, yaitu dengan cara berpuasa selama beberapa hari sebelum pagelaran tari dipentaskan.

Pertunjukan Tari Bedhaya Ketawang sendiri diiringi dengan alunan musik dari gending ketawang gedhe dengan nada pelog.

Instrumen yang digunakan untuk tari ini ada dari kethuk, gong, kendhang, kemanak, kenong dengan irama yang lebih halus.

Tari Bedhaya Ketawang sendiri terbagi menjadi tiga adegan atau babak, saat pertengahan tarian nada gendhing akan berganti menjadi slendro selama dua kali, setelah itu nada gending akan kembali menuju nada pelog sampai tari selesai.

Busana Tari Bedhaya Ketawang

busana tari bedhaya ketawang

Para penari Tari Bedhaya Ketawang biasanya akan mengenakan busana wanita pengantin perempuan Jawa yakni dodot ageng atau biasa disebut juga dengan basahan.

Untuk rambut para penari sendiri mengenakan gelung bokor mengkurep yakni sejenis gelungan yang ukurannya lebih besar jika dibandingkan dengan gelungan gaya Yogyakarta.

Selain busana ada juga aksesoris perhiasan seperti centhung, sisir jeram saajar, cundhuk mentul, garudha mungkur, tiba dhada ataur rangkaian bunga.

Demikian penjelasan mengenai Tari Bedhaya Ketawang semoga artikel ini dapat membantu kamu dalam mempelajari budaya Indonesia.

Ruben Orang yang tertarik dengan dunia tulis menulis ;)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *