Suku Sasak – Kebudayaan, Adat Istiadat, dan Keseniannya

Suku Sasak merupakan salah satu suku yang ada di negara Indonesia, yang tepatnya berasal dari pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Ada banyak keunikan dari suku yang satu ini, mulai dari asal usul, tradisi, kepercayaan dan lain sebagainya

Nah pada kesempatan kali ini Neprona.com mau membahas lebih mendalam mengenai suku yang satu ini. Penasaran mengenai suku Sasak ?

Berikut penjelasan lengkap mengenai suku Sasak, selamat membaca !!!

Suku Sasak

Suku Sasak
sumber : infobudaya.net

Suku Sasak adalah suku yang berasal dari pulau Lombok, suku ini terdapat di desa Sade, desa tersebut berjarak sekitar 20 menit perjalanan dari bandara Lombok.

Suku Sasak adalah suku asli dari Nusa Tenggara Barat yang dalam kesehariannya menggunakan bahasa Sasak untuk berkomunikasi antar masyarakat.

Masyarakat disana terbuka dan tidak mengisolasi dari dunia luar, sehingga banyak wisatawan yang datang untuk mengunjungi desa wisata tersebut.

Oleh karena itu, desa Sade merupakan salah satu desa yang menjadi destinasi wisata di tanah lombok, salah satu yang menarik dari desa tersebut ialah rumah adatnya yang masih terjaga hingga sekarang.

Sejarah Asal Suku Sasak

Sejarah Asal Suku Sasak
sumber : id.wikipedia.org

Suku Sasak terdiri dari kata “Sak Sak” yang mempunyai arti Satu satu, asal kata Sasak juga terpengaruh dari kelihaian masyarakat suku Sasak dalam menenun. Menenun dalam bahasa Sasak disebut dengan Sesek.

Sesek sendiri berasal dari kata Sesak yang mempunyai makan memasukkan benang satu persatu atau Sak sak sam seperti suara dari alat tenun yang digunakan oleh suku Sasak dalam menenun.

Dari situlah kemudian lebih dikenal dengan sebutan suku Sasak

Kepercayaan Suku Sasak

Kepercayaan Suku Sasak
sumber : republika.co.id

Untuk kepercayaan dari suku Sasak sendiri mengikuti perkembangan zaman, pada zaman dulu mereka menganut kepercayaan animisme dengan memuja roh-roh leluhur yang biasa disebut dengan “Sasak Boda

Setelah itu kepercayaan mereka berubah dengan mengutamakan Sidharta Gautama atau Sang Buddha. Namun setelah kerajaan Majapahit menguasai daerah tersebut masyarakat Sasak beragama Hindu-Budha Majapahit

Pada abad ke 17 suku Sasak mengenal ajaran Islam dari Sunan Giri, dan banyak masyarakat suku Sasak yang berubah agamanya dari hindu ke islam.

Sekarang ini mayoritas suku Sasak beragama islam.

Mata Pencaharian Suku Sasak

Mata Pencaharian Suku Sasak
sumber : tribunnewswiki.com

Kebanyakan suku Sasak memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan bertani di sawah, tetapi sejak desa tersebut menjadi salah satu destinasi wisata banyak ibu-ibu yang bekerja sebagai penenun.

Mereka biasanya menenun kain di depan rumah menggunakan dipan.

Agar tradisi menenun tidak punah, anak-anak perempuan sejak kecil sekitar 10 tahun sudah diajari menenun. Bahkan terdapat aturan bahwa anak perempuan belum boleh menikah sebelum bisa menenun.

Kain tenun dari desa Sade mempunyai harga yang tinggi, karena seperti yang kita tahu bahwa proses pembuatannya sangat lama. Kain tenun ini juga biasa digunakan sebagai mahar dalam pernikahan suku Sasak.

Tradisi Suku Sasak

Tradisi Suku Sasak
sumber : goodnewsfromindonesia.id

Banyak tradisi unik yang dimiliki oleh suku Sasak, salah satunya yaitu boleh menikahkan anak perempuan sejak umur 14 tahun sedangkan untuk anak laki-laki sejak usia 19 tahun. Menikah muda sudah menjadi tradisi di daerah tersebut.

Ada tradisi dimana seorang anak perempuan yang akan menikah akan diculik oleh mempelai laki-laki selama tiga hari. Diculik disini mempunyai arti di tempatkan di rumah kerabat keluarganya.

Tradisi tersebut merupakan bentuk penghormatan kepada para leluhur masyarakat suku Sasak. Kebudayaan Suku Sasak juga dilakukan sampai sekarang.

Mengenal Kebudayaan Suku Sasak

Mengenal Adat Suku Sasak
sumber : tekurika.blogspot.com

Suku Sasak merupakan salah satu suku yang sangat kental adat istiadatnya hingga saat ini. Kehidupan masyarakat suku Sasak juga terlihat sangat asli natural.

Jumlah penduduk yang tinggal di desa Sade ada sekitar 700 jiwa, dengan rumah adat sebanyak 150 bangunan. Masyarakat suku Sasak menyebut rumah tersebut dengan Bale.

Berbeda dengan bangunan dari desa lain, rumah ada suku Sasak masih sangat sederhana.

Rumah Bale Suku Sasak

Rumah Bale merupakan rumah adat yang dihuni oleh masyarakat suku Sasak, ada beberapa jenis rumah Bale, bentuk, dan pembagiannya.

Berikut penjelasan mengenai

  • Jenis Bale

Ada beberapa jenis Bale yang ada di desa Sage, setiap rumah Bale mempunyai fungsi yang berbeda beda seperti Bale Bonter yang digunakan untuk tempat tinggal para pejabat.

Bale Kodong yang digunakan sebagai rumah tempat tinggal orang yang sudah tua dan ingin menghabiskan masa tuanya atau bagi pengantin yang baru menikah.

Bale tani merupakan tempat yang digunakan sebagai tempat tinggal orang-orang yang sudah berkeluarga beserta dengan keturunannya.

  • Pembagian Bale Rumah

Bale juga mempunyai beberapa ruangan yang digunakan dengan fungsi masing-masing. Secara garis besar Bale terbagi menjadi dua ruangan

  • Ruang luar

Ruangan tersebut merupakan ruang tamu, tempat ini biasa digunakan untuk menerima tamu yang datang.

Selain itu terdapat ruangan depan bagian kiri yang digunakan untuk tempat menyimpan benda pusaka ataupun tempat tidur anak laki-laki

Untuk ruang depan bagian kanan digunakan sebagai kamar dan tempat tidur orang tua, baik ayah ataupun ibu.

  • Ruang Dalam

Ruangan dalam digunakan sebagai tempat pribadi, kamar tidur anak perempuan dan tempa melahirkan.

Secara konstruksi ruangan ini terletak lebih tinggi jika dibandingkan dengan ruangan luar. Sebagai penghubung antara Bale luar dengan Bale dalam terdapat tiga buah anak tangga tepat di tengah rumah.

Susunan 3 buah anak tangga tersebut mempunyai arti sebagai berikut

  1. Anak tangga pertama menyimbolkan Tuhan Yang Maha Esa
  2. Anak tangga kedau menyimbolkan ibu
  3. Anak tangga ketiga menyimbolkan ayah
  • Bagian Lumbung Padi

Di desa sage yang ada di pulau lombok juga terdapat tempat yang bernama lumbung padi, bentuk dan arsitekturnya hampir sama dengan Bale.

Tempat ini digunakan sebagai tempat untuk menyimpan hasil panen setelah musim panen selesai.

Bagian atap dari lumbung padi menggunakan ijuk, sedangkan bagian bawah atau alasnya berupa tanah liat yang telah dicampur menggunakan sekam padi.

Masyarakat suku Sasak biasanya membersihkan tempat ini jika akan upacara adat atau satu minggu sekali. Salah satu keunikan dari lumbung padi tersebut adalah dibersihkan dengan kotoran kerbau yang masih baru.

Masyarakat suku Sasak akan mengepel lantainya dengan kotoran kerbau, meskipun demikian apabila telah mengering maka tidak akan ada bau tidak sedap dari kotoran tersebut.

Mereka juga percaya bahwa kotoran kerbau dapat melindungi mereka dari serangan hal gaib dan dapat mengusir serangga.

Bentuk Pintu

Untuk bentuk pintu dari rumah Bale suku Sasak ini mempunyai bentuk yang hampir sama dengan pintu yang ada di Jawa Tengah. Dimana daun pintunya akan terlihat lebih pendek daripada bangunan rumah.

Hal tersebut mempunyai makna bahwa setiap tamu harus menundukkan kepala saat masuk sebagai simbol dari menghormati pemilik rumah.

Letak Rumah

Suku Sasak mempunyai kebiasaan unik yaitu membangun rumah yang berdempetan. Mereka akan membangun rumah di setiap gang dengan jalan setapak sebagai penghubungnya.

Tak hanya itu, rumah-rumah mereka juga terlihat mempunyai ukuran yang sama semua, dengan perabotan rumah tangga yang sangat simpel dan sederhana.

Demikian penjelasan mengenai salah satu suku Indonesia yang berada di pulau Lombok, semoga artikel mengenai suku Sasak dapat memberikan manfaat bagi kita semua.

Dan jangan lupa untuk membaca juga mengenai suku Asmat Papua.

Marilah kita bersama menjaga kebudayaan dan saling mencintai antar sesama suku yang ada di Indonesia.

Dan seperti biasa, terimakasih sudah singgah.

Tinggalkan komentar