Suku Osing

Banyuwangi merupakan kabupaten yang terletak di ujung timur pulau Jawa. Ada yang menarik dari kabupaten ini yaitu suku Osing.

Suku Osing atau Laros (Lare Osing) merupakan penduduk asli sari kabupaten Banyuwangi .

Ada berbagai macam keunikan dari Wong Blambangan  ini. Mulai dari bahasa yang berbeda dengan bahasa jawa pada umumnya, kesenian yang hanya ditemukan di daerah tersebut dan masih banyak lagi

Penasaran lebih jauh mengenai suku ini ?

Mari disimak bersama penjelasan mengenai suku Osing, selamat membaca !

Suku Osing Banyuwangi

Suku Osing Banyuwangi
id.wikipedia.org

Terbentuknya kabupaten Banyuwangi  tidak lepas dari adanya pengaruh kerajaan Blambangan .

Menurut catatan sejarah kerajaan Blambangan  merupakan cikal bakal dari terbentuknya kabupaten Banyuwangi . Kerjaan Blambangn merupakan kerajaan paling lama bertahan dari serangan VOC dan Mataram.

Tak hanya mempunyai keindahan alam yang sangat menakjubkan, kekayaan budaya dari masyarakat Blambangan  juga merupakan ciri khasnya.

Salah satu fakta menarik ilah penduduk Blambangan  merupakan campuran dari beberapa elemen masyarakat seperti suku Madura, Jawa dan Osing.

Namun menurut sejarah, suku Osinglah yang merupakan suku asli dari Banyuwangi .

Bahasa Suku Osing

Bahasa Suku Osing
banyuwangiwisata.com

Meskipun berada di tanah Jawa, namun bahasa yang digunakan oleh suku Osing berbeda dengan bahasa Jawa. Mereka menggunakan bahasa Osing sebagai bahasa sehari-harinya.

Bahasa Osing merupakan bahasa yang dipengaruhi oleh bahasa Jawa Kuno dan bahasa Bali.

Bagi kamu orang Jawa Timur, meskipun tinggal bersebelahan dengan Banyuwangi akan sedikit kesulitan dengan bahasa ini.

Kepercayaan Suku Osing

Kepercayaan Suku Osing
kumparan.com

Pada zaman dahulu, pada awal terbentuknya suku Osing, mereka mempunyai kepercayaan utama yaitu Hindu-Budha yang berasal dari Kerajaan Majapahit.

Tetapi, karena semakin meluasnya kerajaan Islam di daerah Pantura, membuat penyebaran agama islam semakin meluas dan menjadi kepercayaan utama suku Osing.

Selain karena perkembangan pesat agama islam, pengaruh luar juga dari usaha VOC untuk menguasai tanah Blambangan  juga salah satu faktor tersebut.

Jangan ketinggalan mengenai Suku Asmat di Papua

Ada salah satu tradisi unik yang dimiliki oleh suku Osing yaitu tradisi Puputan, tradisi puputan merupakan tradisi perang untuk mempertahankan harga diri dari serangan musuh yang lebih kuat dari mereka, perang ini akan dilakukan hingga titik darah penghabisan.

Dahulu tradisi ini pernah membuat sebuah peperangan yang sangat besar pada tahun 1771 masehi yang dikenal dengan Puputan Bayu.

Demografi

Penyebaran suku Osing memang hanya di daerah Banyuwangi , suku ini paling banyak berada di kabupaten Banyuwangi  bagian timur dan bagian timur.

Kebanyak dari mereka berada di desa-desa yang mempunyai tanah pertanian.

Untuk pastinya mereka banyak berada di kecamatan Rogojampi, Kecamatan Giri, Kecamatan Blimbingsari, Kecamatan Songgon, Kecamatan Glagah, Kecamatan Singojuruh, Kecamatan Kabat, Kecamatan Kalipuro, Kecamatan Licin, dan Kecamatan Sempu.

Mereka hidup membaur dengan suku-suku lain seperti suku Jawa, suku Madura dan suku lainnya.

Suku Osing atau dikenal juga dengan sebutan Wong Osing menurut beberapa penelitian menyebutkan bahwa suku ini merupakan suku asli dari kabupaten Banyuwangi  yang dikenal dengan tanah Blambangan .

Mata Pencaharian Suku Osing

Mata Pencaharian Suku Osing
phinemo.com

Kebanyakan mata pencaharian dari masyarakat suku Osing adalah sebagai petani, namun ada juga beberapa dari mereka yang bekerja sebagai pedagang, buruh, nelayan dan pegawai seperti guru atau pegawai negeri.

Alasan kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai petani ialah karena tanah Blambangan  yang subur, sehingga sangat cocok untuk ditanami dengan apapun.

Stratifikasi Sosial

Meskipun terletak bersebelahan dengan suku bali, namun kedua suku ini berbeda dalam stratifikasi sosial.

Suku Osing tidak mengenal perbedaan kasta atau stratifikasi sosial layaknya suku bali, hal ini karena suku sebagian besar penduduknya beragama islam.

Seperti yang kita tahu dalam ajaran islam tidak mengenal stratifikasi atau perbedaan kasta.

Kesenian Suku Osing

Kesenian Suku Osing
netralnews.com

Hampir sama dengan suku-suku lainnya, suku Osing mempunyai beragam kesenian. Kebanyakan kesenian dari suku Osing mengandung unsur-unsur mistik seperti suku Tengger ataupun suku bali.

Kesenian yang paling terkenal dari suku ini ilaha Patrol, Gandrung Banyuwangi , Angklung, Tari Barong, Seblang, Jangger, Kuntulan, Jaran Kincak, Jedor dan Angklung Caruk.

Kesenian lain dari suku Osing adalah kesenian yang biasa dimainkan oleh anak-anak seperti Tembang Dolanan, Jamuran dan Ojo Rame-rame.

Tembang-tembang tersebut merupakan syair-syair pendek yang digunakan oleh anak-anak untuk mengiringi permainan. Selain sebagai permainan tembang dolanan juga mempunyai nilai-nilai positif seperti contoh

  • Tembang Jamuran yang mengajarkan mengenai gotong royong
  • Tembang ojo rame-rame yang mengajarkan tentang patriotisme

Keunikan Suku Banyuwangi

Keunikan Suku Banyuwangi
liputan6.com

Berikut merupakan penjelasan dari keunikan-keunikan yang dipunyai oleh suku Osing, penasaran ?

Berikut penjelasannya.

Ritual Pecel Pitik

Di Banyuwangi  terdapat salah satu desa wisata yang bernama Kemiren , desa ini terletak di Gelagah. Desa ini merupakan perkampungan dari suku Osing Banyuwangi .

Alasan kenapa desa ini menjadi desa wisata ialah karena desa ini masih mempertahankan tradisi dan nilai-nilai leluhurnya.

salah satu tradisi yang dilakukan oleh suku Osing di daerah ini adalah tradisi Pecel Pitik, tradisi ini merupakan tradisi makan bersama setelah membersihkan makam di salah satu makam leluhur yang paling dihormati.

Sebelum ritual dimulai biasanya akan disiapkan terlebih dahulu bahan-bahan pecel pitik seperti parutan kelapa, ayam kampung dan bumbu.

Proses pembuatan dari pecel pitik tergolong mudah, ayam kampung yang telah dibersihkan akan dibakar hingga matang dengan cara tradisional di atas tumpukan kayu. Dalam memasak ayam terdapat aturan bahwa orang yang memasak tidak boleh mencicipi makanannya sampai selesai.

Setelah siap, maka makanan akan disajikan diatas pikulan khusus.

Makanan akan dibawah ke makam, ada juga syarat khusus bagi laki-laki yang ikut ialah harus menggunakan udeng atau ikat kepala suku Osing.

Setelah sampai di makam, maka akan dilakukan ritual dan menyisihkan sebagian dari makanan yang dibawa ke dalam makam. Setelah ayam dibagi menjadi bagian-bagian kecil maka selanjutnya akan diaduk dengan kelapa dan bumbu lain.

Setelah itu akan diadakan doa untuk memohon hajat yang di inginkan dan dilanjutkan dengan maka bersama.

Alunan Musik Othekan

Kesenian lainnya dari suku Osing Banyuwangi ialah alunan musik Othekan, musik Othek merupakan salah satu perpaduan musik yang unik karena berasal dari alat musik luar biasa.

Alat musik yang digunakan adalah lesung dan alu yaitu alat untuk menumbuk padi. Kedua benda tersebut dipadukan dengan alunan suara biola dan angklung.

Pemain musik biasanya terdiri dari orang-orang tua yang sudah sepuh baik itu laki-laki ataupun perempuan. Sebelum pertunjukan dimulai, biasanya para nenek-nenek akan memakai baju ada berwarna hitam lengkap dengan membawa perlengkapan sirih.

Tradisi menyirih memang sudah dikenal oleh bangsa kita sejak lama.

Pada mulanya tradisi memainkan lesung dan alu ini dilakukan oleh masyarakat suku Osing ketika musim panen telah selesai. Namun sekarang Othekan dapat dimainkan ketika seseorang mempunyai acara seperti hajatan ataupun syukuran.

Barong Kemiren

Tradisi asal suku Osing yang terakhir ialah Barong Kemiren , kesenian ini kono merupakan kesenian kuno Banyuwangi  yang dibuat pada abad ke 16 Masehi.

Sesuai dengan namanya barong ini berasal dari desa Kemiren  dan disebut juga dengan Barong Osing. Kesenian ini biasanya dipertunjukan dalam acara bersih desa atau hajatan.

Barong dalam kesenian ini dikenal dengan nama Sunar Udara yaitu peliharaan dari penari Gandrung Ja’ripah. Ciri khas dari barong Kemiren  adalah mempunyai warna merah, kuning ataupun hijau dengan punuk mahkota bulat.

Kesenian ini biasanya akan dimainkan secara semalam penuh kemudian dilanjutkan dengan kesenian jaranan.

Ada satu barong Kemiren  yang berusia sangat lama yaitu sekitar 400 tahun yang disimpan dan dirawat sebagai benda pusaka yang digunakan dalam kirab acara-acara khusus di desa Kemiren .

Dalam puncak acara tradisi ini akan dilanjutkan dengan Jaranan yang menampilkan tarian pitik Panji Laras. Dalam pertunjukan jaranan para penari biasanya akan membawa properti tambahan berupa kuda lumping.

Demikian penjelasan mengenai suku Osing yang ada di Banyuwangi , semoga artikel ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Dan jangan lupa untuk menjaga kebudayaan bangsa kita.

Dan seperti biasa terimakasih sudah singgah

Tinggalkan komentar